TINJAUAN TEORITIS
Pengertian
Ketuban pecah dini adalah ketuban yang pecah
spontan yang terjadi pada sembarang usia kehamilan sebelum persalinan di mulai
(William,2001).
Ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan
berupa air dari vagina setelah kehamilan berusia 22 minggu sebelum proses
persalinan berlangsung dan dapat terjadi pada kehamilan preterm sebelum
kehamilan 37 minggu maupun kehamilan aterm (Saifudin,2002).
KPD adalah pecahnya ketuban sebelum in partu,
yaitu bila pembukaan primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm
(Sarwono Prawirohardjo, 2005).
Etiologi
Walaupun banyak publikasi tentang KPD, namun
penyebabnya masih belum diketahui dan tidak dapat ditentukan secara pasti.
Beberapa laporan menyebutkan faktor-faktor yang berhubungan erat dengan KPD,
namun faktor-faktor mana yang lebih berperan sulit diketahui. Kemungkinan yang
menjadi faktor predesposisi adalah : (1) Infeksi : Infeksi yang terjadi secara langsung pada
selaput ketuban maupun asenderen dari vagina atau infeksi pada cairan ketuban
bisa menyebabkan terjadinya KPD. (2) Servik yang
inkompetensia, kanalis sevikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada
servik uteri (akibat persalinan, curetage). (3) Tekanan
intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan (overdistensi
uterus) misalnya trauma, hidramnion, gemelli. Trauma oleh beberapa ahli
disepakati sebagai faktor predisposisi atau penyebab terjadinya KPD. Trauma yang
didapat misalnya hubungan seksual, pemeriksaan dalam, maupun amnosintesis
menyebabkan terjadinya KPD karena biasanya disertai infeksi. (4) Kelainan letak, misalnya sungsang, sehingga tidak ada bagian terendah
yang menutupi pintu atas panggul (PAP) yang dapat menghalangi tekanan terhadap
membran bagian bawah. (5) Faktor lain : (a) Faktor golongan darah. Akibat golongan darah ibu dan anak yang tidak
sesuai dapat menimbulkan kelemahan
bawaan termasuk kelemahan jaringan kulit
ketuban. (b) Faktor disproporsi antar kepala janin dan panggul ibu. (c) Faktor multi
graviditas, merokok dan perdarahan antepartum. (d) Defisiesnsi
gizi dari tembaga atau asam askorbat (Vitamin C).
Tanda Dan
Gejala
Tanda yang terjadi adalah keluarnya cairan
ketuban merembes melalui vagina. Aroma
air ketuban berbau manis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut
masih merembes atau menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan
ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi
bila Anda duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah
biasanya "mengganjal" atau "menyumbat" kebocoran untuk
sementara. Demam,
bercak vagina yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat
merupakan tanda-tanda infeksi yang terjadi.
Patofisiologis
Kantung ketuban adalah sebuah kantung berdinding
tipis yang berisi cairan dan janin selama masa kehamilan. Dinding kantung ini
terdiri dari dua bagian. Bagian pertama disebut amnion, terdapat di sebelah
dalam. Sedangkan, bagian kedua, yang terdapat di sebelah luar disebut chorion. Cairan
ketuban adalah cairan yang ada di dalam kantung amnion. Cairan ketuban ini
terdiri dari 98 persen air dan sisanya garam anorganik serta bahan organik.
Cairan ini dihasilkan selaput ketuban dan diduga dibentuk oleh sel-sel amnion,
ditambah air kencing janin, serta cairan otak pada anensefalus. Pada ibu hamil,
jumlah cairan ketuban ini beragam. Normalnya antara 1 liter sampai 1,5 liter.
Namun bisa juga kurang dari jumlah tersebut atau lebih hingga mencapai 3-5
liter. Diperkirakan janin menelan lebih kurang 8-10 cc air ketuban atau 1
persen dari seluruh volume dalam tiap jam. Manfaat air
ketuban Pada ibu hamil, air ketuban ini berguna untuk mempertahankan atau
memberikan perlindungan terhadap bayi dari benturan yang diakibatkan oleh
‘lingkungannya’ di luar rahim. Selain itu air ketuban bisa membuat janin
bergerak dengan bebas ke segala arah. Tak hanya itu, manfaat lain dari air
ketuban ini adalah untuk mendeteksi jenis kelamin, memeriksa kematangan
paru-paru janin, golongan darah serta rhesus, dan kelainan kongenital (bawaan),
susunan genetiknya, dan sebaginya. Caranya yaitu dengan mengambil cairan
ketuban melalui alat yang dimasukkan melalui dinding perut ibu.
Mekanisme terjadinya ketuban pecah dini dapat
berlangsung sebagai berikut : (1) Selaput ketuban tidak kuat sebagai akibat kurangnya jaringan ikat dan
vaskularisasi Bila terjadi pembukaan serviks maka selaput ketuban sangat lemah
dan mudah pecah dengan mengeluarkan air ketuban. (2) Kolagen
terdapat pada lapisan kompakta amnion, fibroblas, jaringan retikuler korion dan
trofoblas. Sintesis maupun degradasi jaringan kolagen dikontrol oleh sistem
aktivitas dan inhibisi interleukin-1 (IL-1) dan prostaglandin. Jika ada infeksi
dan inflamasi, terjadi peningkatan aktivitas IL-1 dan prostaglandin,
menghasilkan kolagenase jaringan, sehingga terjadi depolimerisasi kolagen pada
selaput korion/amnion, menyebabkan selaput ketuban tipis, lemah dan mudah pecah
spontan.
Patofisiologi Pada infeksi intrapartum : (1) ascending
infection, pecahnya ketuban menyebabkan ada hubungan langsung antara ruang
intraamnion dengan dunia luar.(2) infeksi
intraamnion bisa terjadi langsung pada ruang amnion, atau dengan penjalaran
infeksi melalui dinding uterus, selaput janin, kemudian ke ruang intraamnion. (3) mungkin juga jika ibu mengalami infeksi sistemik, infeksi intrauterin
menjalar melalui plasenta (sirkulasi fetomaternal). (4) tindakan
iatrogenik traumatik atau higiene buruk, misalnya pemeriksaan dalam yang terlalu
sering, dan sebagainya, predisposisi infeksi.
Diagnosa
Menegakkan diagnosa KPD secara tepat sangat
penting. Karena diagnosa yang positif palsu berarti melakukan intervensi
seperti melahirkan bayi terlalu awal atau melakukan seksio yang sebetulnya tidak
ada indikasinya. Sebaliknya diagnosa yang negatif palsu berarti akan membiarkan
ibu dan janin mempunyai resiko infeksi yang akan mengancam kehidupan janin, ibu
atau keduanya. Oleh karena itu diperlukan diagnosa yang cepat dan tepat.
Diagnosa KPD ditegakkan dengan cara :
(1) Anamnesa : Penderita merasa
basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak secara tiba-tiba dari
jalan lahir atau ngepyok. Cairan berbau khas, dan perlu juga diperhatikan
warna, keluarnya cairan tersebut his belum teratur atau belum ada, dan belum
ada pengeluaran lendir darah. (2) Inspeksi : Pengamatan dengan mata biasa
akan tampak keluarnya cairan dari vagina, bila ketuban baru pecah dan jumlah
air ketuban masih banyak, pemeriksaan ini akan lebih jelas. (3) Pemeriksaan
dengan spekulum : Pemeriksaan dengan spekulum
pada KPD akan tampak keluar cairan dari orifisium uteri eksternum (OUE), kalau
belum juga tampak keluar, fundus uteri ditekan, penderita diminta batuk,
megejan atau mengadakan manuvover valsava, atau bagian terendah digoyangkan,
akan tampak keluar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior.
(4) Pemeriksaan dalam : Didapat
cairan di dalam vagina dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi. Mengenai
pemeriksaan dalam vagina dengan tocher
perlu dipertimbangkan, pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam
persalinan tidak perlu diadakan pemeriksaan dalam. Karena pada waktu
pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengakumulasi segmen bawah rahim dengan
flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa dengan cepat menjadi
patogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan kalau KPD yang sudah dalam
persalinan atau yang dilakukan induksi persalinan dan dibatasi sedikit mungkin.
Pemeriksaan Penunjang : (1) Pemeriksaan laboratorium : Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa : warna, konsentrasi, bau
dan pH nya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga
urine atau sekret vagina. Sekret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas
nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning. (2) Tes Lakmus
(tes Nitrazin), jika krtas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya
air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7 – 7,5, darah dan infeksi vagina dapat
mengahsilakan tes yang positif palsu. (3) Mikroskopik
(tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan
kering. Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis. (4) Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum
uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit. Namun sering
terjadi kesalahn pada penderita oligohidromnion. Walaupun pendekatan diagnosis
KPD cukup banyak macam dan caranya, namun pada umumnya KPD sudah bisa
terdiagnosis dengan anamnesa dan pemeriksaan sedehana.
Tabel : Diagnosis Ketuban Pecah Dini (KPD)
|
No
|
Gejala & Tanda Selalu
Ada
|
Gejala & Tanda
Kadang-Kadang Ada
|
Diagnosis Kemungkinan
|
|
1
|
Keluar cairan ketuban
|
Ketuban pecah tiba-tiba
Cairan tampak di introitus
Tidak ada his dalam 1 jam
|
Ketuban pecah dini
|
|
2
|
Cairan vagina berbau
Demam / menggigil
Nyeri perut
|
Riwayat keluarnya cairan
Uterus nyeri
Denyut jantung janin cepat Perdarahan per
vaginam sedikit
|
Amnionitis
|
|
3
|
Cairan vagina berbau
Tidak ada riwayat ketuban
pecah
|
Gatal
Keputihan
Nyeri perut
Disuria
|
Vaginitis / servisitis
|
|
4
|
Cairan vagina berdarah
|
Nyeri perut
Gerak janin berkurang
Perdarahan banya
|
Perdarahan antepartum
|
|
5
|
Cairan berupa darah-lendir
|
Pembukaan & pendataran serviks
Ada his
|
Awal persalinan aterm atau
preterm
|
Diagnosis infeksi intrapartum : (1) febris di atas 38 C (kepustakaan lain 37.8 C) (2) ibu
takikardia (>100 denyut per menit). (3) fetal
takikardia (>160 denyut per menit).(3) nyeri
abdomen, nyeri tekan uterus. (4) cairan
amnion berwarna keruh atau hijau dan berbau. (4) leukositosis
pada pemeriksaan darah tepi (>15000-20000/mm3). (5) pemeriksaan
penunjang lain : leukosit esterase (+) (hasil degradasi leukosit, normal
negatif), pemeriksaan Gram, kultur darah.
Komplikasi :
(1) Tali pusat menumbung. (2) Prematuritas,
persalinan preterm, jika terjadi pada usia kehamilan preterm. (3) Oligohidramnion,
bahkan sering partus kering karena air ketuban habis. (4) Infeksi
maternal : infeksi intra partum (korioamnionitis) ascendens dari vagina ke
intrauterine, korioamnionitis (demam >380C, takikardi, leukositosis, nyeri
uterus, cairan vagina berbau busuk atau bernanah, DJJ meningkat), endometritis. (5) Penekanan
tali pusat (prolapsus) : gawat janin kematian janin akibat hipoksia (sering
terjadi pada presentasi bokong atau letak lintang), trauma pada waktu lahir dan
Premature.
Komplikasi infeksi intrapartum : (1) Komplikasi ibu : endometritis, penurunan aktifitas miometrium (distonia,
atonia), sepsis CEPAT (karena daerah uterus dan intramnion memiliki
vaskularisasi sangat banyak), dapat terjadi syok septik sampai kematian ibu. (2) Komplikasi janin : asfiksia janin, sepsis perinatal sampai kematian
janin.
Penatalaksanaan
Kasus KPD yang cukup bulan, kalau segera
mengakhiri kehamilan akan menaikkan insidensi bedah sesar, dan kalau menunggu
persalinan spontan akan menaikkan insidensi chorioamnionitis. Kasus KPD yang
kurang bulan kalau menempuh cara-cara aktif harus dipastikan bahwa tidak akan
terjadi RDS, dan kalau menempuh cara konservatif dengan maksud untuk memberi
waktu pematangan paru, harus bisa memantau keadaan janin dan infeksi yang akan
memperjelek prognosis janin.
Penatalaksanaan KPD tergantung pada umur
kehamilan. Kalau umur kehamilan tidak diketahui secara pasti segera dilakukan
pemeriksaan ultrasonografi (USG) untuk mengetahui umur kehamilan dan letak
janin. Resiko yang lebih sering pada KPD dengan janin kurang bulan adalah RDS
dibandingkan dengan sepsis. Oleh karena itu pada kehamilan kurang bulan perlu
evaluasi hati-hati untuk menentukan waktu yang optimal untuk persalinan. Pada
umur kehamilan 34 Minggu atau lebih biasanya paru-paru sudah matang,
chorioamnionitis yang diikuti dengan sepsi pada janin merupakan sebab utama
meningginya morbiditas dan mortalitas janin. Pada kehamilan cukup bulan,
infeksi janin langsung berhubungan dengan lama pecahnya selaput ketuban atau
lamanya perode laten.
Penatalaksanaan KPD pada kehamilan aterm (>
37 Minggu) : Beberapa penelitian menyebutkan lama periode laten dan durasi KPD
keduanya mempunyai hubungan yang bermakna dengan peningkatan kejadian infeksi
dan komplikasi lain dari KPD. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari
persalinan disebut periode latent = L.P = “lag” period. Makin muda umur
kehamilan makin memanjang L.P-nya. Pada hakikatnya kulit ketuban yang pecah
akan menginduksi persalinan dengan sendirinya. Sekitar 70-80 % kehamilan genap
bulan akan melahirkan dalam waktu 24 jam setelah kulit ketuban pecah. Bila
dalam 24 jam setelah kulit ketuban pecah belum ada tanda-tanda persalinan maka
dilakukan induksi persalinan,dan bila gagal dilakukan bedah caesar.
Pemberian antibiotik profilaksis dapat
menurunkan infeksi pada ibu. Walaupun antibiotik tidak berfaedah terhadap janin
dalam uterus namun pencegahan terhadap chorioamninitis lebih penting dari pada
pengobatannya sehingga pemberian antibiotik profilaksis perlu dilakukan. Waktu
pemberian antibiotik hendaknya diberikan segera setelah diagnosis KPD ditegakan
dengan pertimbangan : tujuan profilaksis, lebih dari 6 jam kemungkinan infeksi
telah terjadi, proses persalinan umumnya berlangsung lebih dari 6 jam.
Beberapa penulis menyarankan bersikap aktif
(induksi persalinan) segera diberikan atau ditunggu sampai 6-8 jam dengan
alasan penderita akan menjadi inpartu dengan sendirinya. Dengan mempersingkat
periode laten durasi KPD dapat diperpendek sehingga resiko infeksi dan trauma
obstetrik karena partus tindakan dapat dikurangi.
Pelaksanaan induksi persalinan perlu pengawasan
yang sangat ketat terhadap keadaan janin, ibu dan jalannya proses persalinan
berhubungan dengan komplikasinya. Pengawasan yang kurang baik dapat menimbulkan
komplikasi yang fatal bagi bayi dan ibunya (his terlalu kuat) atau proses persalinan
menjadi semakin kepanjangan (his kurang kuat). Induksi dilakukan dengan
memperhatikan bishop score jika > 5 induksi dapat dilakukan, sebaliknya <
5, dilakukan pematangan servik, jika tidak berhasil akhiri persalinan dengan
seksio sesaria.
Penatalaksanaan KPD pada
kehamilan preterm (< 37 Minggu)
Pada kasus-kasus KPD dengan umur kehamilan yang
kurang bulan tidak dijumpai tanda-tanda infeksi pengelolaannya bersifat
koservatif disertai pemberian antibiotik yang adekuat sebagai profilaksi.
Penderita perlu dirawat di rumah sakit, ditidurkan dalam posisi trendelenberg,
tidak perlu dilakukan pemeriksaan dalam untuk mencegah terjadinya infeksi dan
kehamilan diusahakan bisa mencapai 37 Minggu, obat-obatan uteronelaksen atau
tocolitic agent diberikan juga tujuan menunda proses persalinan. Tujuan dari pengelolaan konservatif dengan
pemberian kortikosteroid pada penderita KPD kehamilan kurang bulan adalah agar
tercapainya pematangan paru, jika selama menunggu atau melakukan pengelolaan
konservatif tersebut muncul tanda-tanda infeksi, maka segera dilakukan induksi
persalinan tanpa memandang umur kehamilan.
Induksi persalinan sebagai usaha agar persalinan
mulai berlangsung dengan jalan merangsang timbulnya his ternyata dapat
menimbulkan komplikasi-komplikasi yang kadang-kadang tidak ringan.
Komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi gawat janin sampai mati, tetani uteri,
ruptura uteri, emboli air ketuban, dan juga mungkin terjadi intoksikasi. Kegagalan
dari induksi persalinan biasanya diselesaikan dengan tindakan bedah sesar. Seperti halnya pada pengelolaan KPD yang cukup bulan, tidakan
bedah sesar hendaknya dikerjakan bukan semata-mata karena infeksi intrauterin
tetapi seyogyanya ada indikasi obstetrik yang lain, misalnya kelainan letak,
gawat janin, partus tak maju, dll.
Selain komplikasi-komplikasi yang dapat terjadi
akibat tindakan aktif. Ternyata pengelolaan konservatif juga dapat menyebabkan
komplikasi yang berbahaya, maka perlu dilakukan pengawasan yang ketat. Sehingga
dikatan pengolahan konservatif adalah menunggu dengan penuh kewaspadaan
terhadap kemungkinan infeksi intrauterin.
Patofisiologi KPD
ASUHAN KEPERAWATAN
Pengkajian
Tanggal masuk : 9 Agustus 2011
Jam masuk : 09.20 WITA
Tanggal
Pengkajian : 10 Agustus 2011 Jam : 10.00 WITA
Ruang/kelas : VK/III
Identitas
Pasien
(1) Nama Pasien : Ny. “G” . (2) Umur : 30 Tahun. (3) Suku/Bangsa
: Sasak/Indonesia. (4) Agama : Islam. (5) Pendidikan : SMP. (6) Pekerjaa
: IRT. (7) Alamat
: Gunung sari. (8)
Identitas Penanggung Jawab : (1) Nama
: Tn. M. (2) Umur : 36 Tahun . (3) Suku/Bangsa : Sasak/Indonesia. (4) Agama : Islam. (5) Pendidikan
: SMA. (6) Pekerjaan
: Wiraswasta. (7) Hubungan
Dengan pasien : Suami
Riwayat keperawatan
Alasan Masuk Rumah
Sakit : (1) Klien
Merupakan Rujukan Dari Puskesmas Gunung Sari Dengan Perdarahan Jalan Lahir,
Umur Kehamilan 36-38 Minggu. (2) pada saat dikaji klien merupakan klien post
partum yang sebelumnya telah mengalami proses persalinan dengan sectio caesarea
(sc), klien mengeluh nyeri seperti ditusuk-tusuk pada luka bagian perut setelah
dioperasi.
Riwayat Obstetri : (1) Riwayat
Menstruasi : Menarche umur 14 tahun, siklus
teratur (28 hari) dengan jumlah darah relatif banyak selama 6-7 hari. Klien
tidak mengalami dismenorhea.
Riwayat Kehamilan/nifas
sebelumnya :
|
Anak Ke
|
Kehamilan
|
Persalinan
|
Komplikasi Nifas
|
Anak
|
Ket
|
||||||||
|
No.
|
Umur
|
U.K
|
Penyulit
|
jenis
|
Penolong
|
penyulit
|
Laserasi
|
Infeksi
|
perdarahan
|
Jenis
|
bb
|
pj
|
|
|
1
|
7 tahun
|
42 mgu
|
-
|
Normal
|
Bidan
|
-
|
-
|
-
|
-
|
Laki-kali
|
3300 g
|
-
|
Sehat
|
|
2
|
Ini
|
9 bln
|
-
|
SC
|
Dokter
|
Plasenta
previa
|
-
|
-
|
-
|
Laki-laki
|
3200g
|
-
|
Sehat
|
Riwayat KB : Saat ini klien
menggunakan alat kontrasepsi pil, tetapi klien pernah menggunakan kontrasepsi
jenis suntik sebelumnya yang mengakibatkan gangguan pada siklus haid klien.
Riwayat Kesehatan
: Klien tidak pernah menderita penyakit berat,
hanya batuk-pilek biasa. Klien mengatakan bahwa orang
tuanya menderita penyakit asma.
Kebutuhan Dasar Khusus : (1) Pola Nutrisi : Klien makan 3 kali sehari, dengan cukup lauk dan sayuran. Klien tidak
mengalami gangguan nafsu makan dan tidak ada alergi makanan. (2) Pola Aktivitas dan latihan : Sebagai ibu
rumah tangga, klien menjalankan aktifitas seperti biasanya dan tidak menambah
waktu istirahat karena klien tidak merasa ada gangguan terhadap kehamilannya.
Saat ini klien merasa nyeri pada perut bagian bawah.
Pemeriksaaan Fisik: (1) Kesadaraan Umum : Composmentis. (2) Tekanan Darah : 120/80 mmHg. (3) Pernafasan : 27 X/menit. (4) Nadi: 85 X/menit. (5) Konjungtiva : Anemis. (6) Sclera : Anikteric. Turgor kulit :
Elastis. (7) Warna kulit : Agak pucat. (8) Inspeksi : Pembesaran relatif pada abdomen, Linea alba +,
Striae pada perut sedikit, terdapat luka post operasi. (9) Palpasi : Leopold I : Tinggi Fundus Uteri : 2 cm diatas
simpisis Terdapat nyeri tekan pada area abdomen.
Data Penunjang : (1) HCG Test : Positif. (2) Hemoglobin : 9 mg%. (3) Ultra
Sonografi : -
Analisa Data
|
Data
|
Etiologi
|
Masalah Keperawatan
|
|||
|
Subyektif :
- Klien mengeluh nyeri seperti ditusuk-tusuk
pada bagian luka setelah dioperasi.
Obyektif :
- Perdarahan (-)
- Kulit agak pucat
- TD = 120/80 mmHg
- N = 84x/menit
- Rr = 20x/menit
- Skala nyeri: 4-6
|
SC
Luka post operasi
|
Gangguan Rasa Nyaman : Nyeri
|
Diagnosa Keperawatan : Gangguan
rasa nyaman: Nyeri berhubungan dengan Luka post operasi SC
Intervensi Keperawatan
Tujuan : Klien dapat
beradaptasi dengan nyeri yang dialami
Intervensi : (1) Kaji kondisi
nyeri yang dialami klien. R/ Pengukuran
nilai ambang nyeri dapat dilakukan dengan skala maupun deskripsi. (2) Terangkan nyeri yang diderita klien dan penyebabnya. R/ Meningkatkan koping klien dalam mengatasi nyeri. (3) Kolaborasi pemberian analgetik. R/
Mengurangi onset terjadinya nyeri dapat dilakukan dengan pemberian analgetika
oral maupun sistemik dalam spectrum luas/spesifik
Evaluasi
|
Tanggal
|
Diagnosa Kep.
|
Evaluasi
|
Paraf
|
|
10-8-2011
(12.00)
|
Gangguan rasa nyaman: Nyeri
berhubungan dengan luka post operasi SC
|
S : Klien mengatakan nyeri pada luka perut berkurang.
O : Klien tampak bisa beradaptasi dengan nyeri, klien tampak lebih tenang
dari sebelumnya.
A : Masalah teratasi
P : Intervensi
dihentikan
|
bagus materi say
BalasHapuslike
BalasHapus