Minggu, 07 Agustus 2016




Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan 

"Dimulai dari Kesadaran Diri Sendiri Untuk Damai dan Sejahteranya Umat Manusia"

Setiap manusia yang berada di muka bumi ini, baik yang tua ataupun yang muda, baik yang sakit atau pun sehat, yang kaya dan yang kurang mampu pasti ingin mendapatkan hak dan pandangan yang sama dimata orang lain. Tentulah banyak diantara kita yang masih sering menganggap satu dengan yang lain berbeda. Kesadaran akan toleransi dan rasa kemanusiaan di dalam diri kita masih sangat tipis. Bahkan tidak sedikit diantara kita yang masih sering mengkritik dan menghakimi orang secara kasar.

                Rasa kemanusiaan timbul bukan dari seberapa banyak harta yang kita punya atau seberapa besar kekuasaan yang kita miliki. Rasa kemanusiaan muncul dari diri kita masing-masing. Saling memahami sesama umat beragama, saling bantu-membantu dengan warga lingkungan rumah, itu merupakan sebagian kecil dari contoh rasa kemanusiaan.

                Seluruh umat manusia, umat beragama di dunia ini pasti menginginkan adanya perdamaian. Perdamaian dari segala sisi. Baik dari ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Kita perlu menyadari bahwa diluar sana, di luar lingkungan dimana kita biasa beraktifitas, masih banyak sekali orang yang membutuhkan.

                Untuk itu, saya akan memaparkan beberapa masalah kemanusiaan yang akhir-akhir ini sering kita hadapi. Dan saya juga akan memeberikan beberapa solusi untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.
1. Donor Darah
                Sebagai umat manusia yang sadar akan kebutuhan sesama, kita pasti dapat melihat kondisi orang-orang luar sana. Bukan hanya dinegara kita sendiri, kita harus dapat membuka mata untuk melihat sampai ke negara lain. Kita diberi pengetahuan dan pemahaman lebih di banding makhluk lain. Seharusnya kita dapat memahami kondisi diluar sana dengan lebih baik.
                Di negara-negara kecil peperangan masih sering terjadi dimana-mana, banyak korban berjatuhan. Bahkan di negara kita ini pun masih sering terjadi peperangan antar daerah dan suku. Selain itu juga masih ada lagi korban kecelakaan, kebakaran, penembakan dan lain-lain. Tidak sedikit diantara mereka yang kehabisan darah. Kita semua tahu bahwa darah merupakan cairan yang penting dalam tubuh kita. Darah sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia. Tapi apa? Banyak sekali orang yang kehilangan nyawanya karena kehabisan darah.
                Saat ini, di rumah sakit - rumah sakit di indonesia sering sekali kehabisan stock darah. Padahal banyak pasien gawat yang harus segera diberi pertolongan. Ini merupakan masalah kita semua. Dimanakah kita saat itu? Dimanakah kesadaran kita untuk membantu sesama disaat kita tahu ada banyak orang yang membutuhkan bantuan kita?
 
Solusi:
                Di dunia, khususnya di indonesia saat ini, banyak sekali remaja-remaja yang sehat dan tangguh. Banyak juga usia produktif yang masih mampu untuk beraktivitas. Kesadaran mereka semua tentang pentingnya donor darah sangat dibutuhkan. Di perusahaan-perusahaan besar di indonesia, pendonoran darah sudah lumayan banyak dilakukan. Yang saya jarang lihat adalah pendonoran darah di sekolah-sekolah khususnya SMA dan Universitas. Padahal kita semua tahu bahwa indonesia adalah salah satu negara dengan penduduk yang banyak, apalagi untuk umur remajanya. Karena bagi saya, kesadaran remaja untuk membantu akan sangat berperan banyak untuk kedepannya. Remaja rata-rata fisiknya masih kuat dan mampu untuk mendonorkan darah.
                Organisasi donor darah seperti  PMI (Palang Merah Indonesia) harus bekerja lebih keras. Selain PMI,  seharusnya masih banyak lagi organisasi donor darah di indonesia. Karena tidak akan cukup jika hanya ada satu atau dua organisasi yang mengurusi donor darah untuk menampung darah dari masyarakat kita ini.
                Untuk menjaring remaja-remaja ini, dibutuhkan banyak motivasi dan pengarahan. Penyuluhan-penyuluhan ke sekolah-sekolah perlu sekali untuk diadakan. Kemudian event seperti "donor darah bersama" itu harus diadakan secara rutin. Sehingga kita dapat membantu meminimalisir kemungkinan orang untuk kekurangan darah. Di balik itu, setidaknya kita sudah melakukan hal yang baik untuk sesama.
2. Homeless / Tidak memiliki tempat tinggal
                Kita sebagai masyarakat yang hidup bertetangga dan nyaman di rumah masing-masing adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bisa memiliki halaman untuk menanam pohon, memeliki ruang keluarga untuk berkumpul dengan anggota keluarga adalah sebuah nikmat.
                Tapi kalo kita melihat ke pinggiran kota, atau bantaran sungai, kita akan melihat banyak sekali orang-orang yang tinggal di tempat yang kurang layak. Atau kalau kita sedang jalan-jalan, sering kita lihat di emperan jalan banyak orang tidur hanya dengan beralaskan tikar atau bahkan tidak beralaskan apa-apa. Sebagai contoh saya pernah melihat di kawasan yang lumayan elite, ada sekeluarga pemulung yang memang tinggal di atas gerobak sampahnya. Mereka tinggal di tempat biasa mereka menyimpan sampah-sampah yang sudah di kumpulkan. Menurut saya itu sama sekali tidak layak huni. Dan perlu di ketahui, keluarga-keluarga seperti itu tidak hanya satu atau dua keluarga. Tetapi banyak sekali keluarga yang kurang mampu dan harus tidur dengan kondisi seperti itu.
                Banyak juga orang tua yang sudah tidak mampu bekerja, masih menjadi kuli atau menjadi tukang cangkul. Dan mereka juga mungkin tidak memiliki tempat yang layak huni. Oleh karena itu, kita sebagai orang yang berkecukupan harus pandai-pandai melihat kondisi saudara-saudara kita yang membutuhkan. 
Solusi:
                Indonesia merupakan sebuah negara yang memiliki lahan luas dan sumber daya yang sangat melimpah. Kita juga memiliki pemerintah yang seharusnya mampu untuk mengubah lahan dan sumber daya yang ada untuk mensejahterakan seluruh warga negaranya.
                Apa salahnya kita sebagai generasi muda mengubah sedikit lahan untuk setidaknya membuatkan Rusun (Rumah Susun) untuk orang yang kurang layak rumahnya. Kita bisa membangun gedung-gedung tinggi di kota, kita bisa membuat jalan tol. Tetapi kenapa kita tidak bisa membuatkan rumah untuk tempat tinggal saudara kita yang membutuhkan?
                Di indonesia banyak sekali orang yang berkecukupan. Kita seharusnya bisa mengadakan charity untuk menggalang dana pembangunan rusun. Kita juga bisa mensiasati penggalangan dana melalui acara-acara di TV. Dengan begitu orang-orang akan mengetahui bahwa diluar sana kita sedang merencanakan pembangunan untuk para tuna wisma.
                Tentunya disini dibutuhkan banyak partisipasi dari masyarakat semua. Harus ada kerjasama yang baik dari pemerintah dan masyarakat juga. Dengan begitu kita dapat meminimalisir para tuna wisma yang ada di indonesia.
3. Rendahnya Kesadaran Untuk Berpendidikan
                 Manusia yang hidup di masa ini sudah berada di jaman yang modern. Era globalisasi ini telah merubah semua yang sederhana menjadi sesuatu yang luar biasa. Dari yang awalnya komputer masih pentium sampai sekarang sudah jauh lebih berkembang. Semua berawal dari pendidikan. Teknisi-teknisi yang memikirkan ini semua sudah pasti memiliki pendidikan yang baik. Bisa di lihat sekarang banyak sekali pengusaha-pengusaha muda yang membuah lahan pekerjaan baru bagi orang banyak. Itu juga merupakan hasil dari pembelajaran.
                Tetapi di daerah-daerah pelosok, di pinggiran kota, di desa-desa, masih banyak orang yang tidak menyadari pentingnya bersekolah. Para orang tua yang kurang menyadari pentingnya menyekolahkan anaknya. Banyak dari mereka yang masih beranggapan bahwa bertani saja cukup, atau berternak saja sudah bisa menghidupi keluarga. Tetapi apa salahnya kita berusaha lebih? Alangkah baiknya kalau kita bisa menjadi pemilik lahan pertanian, bukan sebagai petaninya. Atau kita sebagai pemilik pabrik keju, bukan sebagai peternak sapinya. pola pikir orang-orang inilah yang perlu dirubah.
                Mencerdaskan kehidupan bangsa, merupakan salah satu tujuan bangsa indonesia. Memiliki niatan untuk memajukan bangsanya lewat generasi muda yang mau belajar. Semua itu harus dimulai dari kecil. Mulai dari SD, SMP, SMA, Perguruan tinggi dan seterusnya. Proses belajar tidak berhenti di perguruan tinggi saja. Karena pelajaran itu dapat kita temui dimana saja.
                Masih sangat banyak orang-orang yang buta huruf, berhenti sekolah di SD, atau bahkan tidak pernah bersekolah sama sekali. Disitulah peran kita dibutuhkan untuk mengubah pola pikir dan mencerdaskan bangsa.
Solusi:
                Sebagai generasi muda yang berpendidikan tentu kita memiliki keinginan untuk mencerdaskan sesama kita. Banyak sekali orang-orang di luar sana yang belum bersekolah, tidak bisa membaca, tidak bisa menulis. Tugas kita adalah memberikan pelayanan dan memberi pengarahan.
                Pengarahan dibutuhkan untuk mengubah pola pikir orang tua-orang tua agar mau menyekolahkan anaknya. Sebenarnya saya yakin orang tua di dunia ini pasti menginginkan anaknya jauh lebih baik dari pada dirinya. Tetapi bagi mereka yang membutuhkan, sulit untuk menyekolahkan anaknya jika dirinya saja sulit untuk mengidupi keluarga. Oleh karena itu pemerintah harus bsia mengadakan sekolah gratis yang baik kualitasnya untuk memudahkan anak-anak penerus bangsa agar bisa sekolah. Selain itu kita juga bisa membuka sekolah darurat untuk remaja-remaja yang tidak sekolah karena harus membantu orang tua mereka bekerja. Mereka bisa belajar membaca dan menulis.
                Tidak hanya untuk mereka yang membutuhkan. Kita sebagai orang yang sudah berpendidikan, harus terus belajar agar bisa memajukan bangsa. Karena bangsa yang maju selalu datang dari penerus-penerus bangsa yang berkualitas.
                Selain pendidikan formal, anak-anak bangsa juga harus dibekali dengan pendidikan agama. mereka harus mengenal dengan baik agama mereka. Karena agama adalah pendirian kita. Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan keburukan. Jadi dengan belajar tentang agama, kita juga akan mengerti tentang toleransi beragama.
                Diatas telah diuraikan beberapa masalah kemanusiaan. Masih banyak lagi masalah-masalah tentang kemanusiaan di dunia ini. Ada pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, penjualan manusia, dan banyak lagi. Banyak diantaranya belum teratasi, bahkan semakin parah setiap tahunnya.
                Kita sebagai generasi muda, dan generasi penerus bangsa seharusnya memiliki tekad yang kuat untuk memperbaiki kemerosotan budaya yang ada. Sehingga masalah kemanusiaan seperti ini bisa diatasi. Semoga kedepannya dunia ini lebih damai dan lebih sejahtera, sehingga tidak harus ada lagi orang-orang yang merasa tersingkir.





                   PROMOSI KESEHATAN

PENGERTIAN PENDIDIKAN KESEHATAN
Pendidikan kesehatan sebagai sekumpulan pengalaman yang mendukung kebiasaan, sikap dan pengetahuan yang berhubungan dengan kesatuan individu masyarakat, dan ras (Wood, 1926).
Pendidikan kesehatan adalah komponen program kesehatan dan kedokteran yang terdiri atas upaya terancang untuk mengubah perilaku individu, kelompok maupun masyarakat yang merupakan perubahan caraberpikir, bersikap dan berbuat dengan tujuan membantu pengobatan renovilitasi, pencegahan penyakit dan promosi hidup sehat (Stuart, 1948).
Suatu proses perubahan pada diri manusia yang hubungannya dengan tujuan kesehatan baik peroranagn maupun pada masyarakat (Nyswander, 1947).
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis, dimana perubahan tersebut bukan proses pemindahan  materi dari seseorang ke oaring lain dan bukan pula sperangkat prosedur. Artinya perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari dalam individu atau masyarakat sendiri. Pendidikan kesehatan adalah istilah yang diterapkan pada penggunaan proses pendidikan secara terencana untuk mencapai tujuan kesehatan yang meliputi beberapa kombinasi dan kesempatan pembelajaran (Lawrence Green, 1972).
Menurut Committee President on Health Education, 1997 yang dikutip Sokidjo Notoadmodjo, 1997 pendidikan kesehatan adalah proses yang menejembatani kesenjangan antara informasi kesehatan dan praktek kesehatan, yang memotivasi seseorang untuk memperoleh informasi dan berbuat sesuatu sehingga dapat menjaga dirinya menjadi lebih sehat dengan menghindari kebiasaan yang buruk dan membentuk kebiasaan yang menguntungkan kesehatan.
Menurut Craven dan Hirnle, 1996 pendidikan kesehatan adalah penambahan penegtahuan dan kemampuan seseorang melalui teknik praktek belajar atau instruksi dengan tujuan untuk mengingat fakta/kondisi nyata, dengan cara memberi dorongan terhadap pengarahan diri (self direction),dan aktif memberikan informasi-informasi. Dari definisi di atas, dapat dismpulkan bahwa pendidikan kesehatan merupakan proses perubahan perilaku secara terencan pada diri individu, kelompok, atau masyarakat untuk dapat lebih mandiri dalam mencapai tujuan hidup sehat.
Pendidikan kesehatan adalah proses membuat orang mampu meningkatkan dan memperbaiki kesehatan mereka (WHO).
Pendidikan secara umum adalah segala upaya yang direncanakan untuk mempengaruhi orang lain baik individu, kelompok, atau masyarakat sehingga mereka melakukan apa yang diharapkan oleh pelaku pendidikan. Pendidikan kesehatan adalah suatu penerapan konsep pendidikan di dalam bidang kesehatan. Dilihat dari segi pendidikan, pendidikan kesehatan adalah suatu pedagogik praktis atau prkatek pendidikan, oleh sebab itu konsep pendidikan kesehatan adalah konsep pendidikan yang diaplikasikan pada bidang kesehatan. Konsep dasar pendidikan adalah suatu proses belajar yang berarti di dalam pendidikan itu terjadi proses pertumbuhan, perkembangan, atau perubahan ke arah yang lebih dewasa, lebih baik dan lebih matang pada diri individu, kelompok atau masyarakat. (Soekidjo Notoadmodjo, 2003 : 97).
Pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis, dimana perubahan tersebut bukan sekedar proses transfer materi/teori dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperangkat prosedur, akan tetapi perubahan tersebut terjadi adanya kesadaran dari dalam individu, kelompok atau masyarakat sendiri. (Wahit, dan kawan-kawan 2006).
PENGERTIAN PROMOSI KESEHATAN
Secara definisi istilah promosi keehatan dalam ilmu kesehatan masyarakat (health promotion) mempunyai dua pengertian. Pengertian promosi kesehatan yang pertama adalah sebagai bagian dari tingkat pencegahan penyakit. Level and Clark, yang mengatakan adanya empat tingkat pencegahan penyakit dalam perspektif kesehatan masyarakat, yakni :
a.       Health Promotion (peningkatan/promosi kesehatan)
b.      Spesific Protection (perlindungan khusus melalui imunisasi)
c.       Early Diagnosis and Promt Treatment (diagnosis dini dan pengobatan segera)
d.      Disability Limitation (membatasi atau mengurangi terjadinya kecacatan).
e.       Rehabilitation (pemulihan).
Oleh sebab itu, promosi kesehatan dalam konteks ini adalah peningkatan kesehatan. Sedangkan pengertian yang kedua ; promosi kesehatan diartikan upaya memasarkan, menyebarluaskan, mengenalkan atau “menjual” kesehatan. Dengan perkataan lain, promosi kesehatan adalah “memasarkan” atau “menjual” atau “memperkenalkan” pesan-pesan kesehatan atau “upaya-upaya” kesehatan, sehingga masyarakat “menerima” , atau “membeli” (dalam arti menerima perilaku kesehatan) atau “mengenal” pesan-pesan kesehatan tersebut, yang akhirnya masyarakat mau berperilaku hidup sehat. Dari pengertian promosi kesehatan yang kedua ini, maka sebenarnya sama dengan pendidikan kesehatan (Health Education), karena pendidikan kesehatan pada prinsipnya bertujuan agar masyarakat berperilaku sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Memang, promosi kesehatan dalam konteks kesehatan masyarakat pada saat ini dimaksudkan sebagai revitalisasi atau pembaruan dari pembagian kesehatan pada waktu yang lalu.
Bergesernya pendidikan kesehatan menjadi promosi kesehatan, tidak terlepas dari sejarah praktik pendidikan kesehatan di dalam kesehatan masyarakat di Indonesia, maupun secara praktik pendidikan kesehatan secara global. Praktik kurangnya pada tahun 90-an, terlalu menekankan perubahan perilaku masyarakat. Para praktisi pendidikan kesehatan telah bekerja keras untuk memberikan informasi kesehatan melalui berbagai media dan teknologi pendidikan kepada masyarakat, dengan harapan masyarakat mau melakukan hidup sehat seperti yang diharapkan. Tetapi pada kenyataannya, perubahan perilaku hidup sehat tersebut sangat lamban, sehingga dampaknya terhadap perbaikan kesehatan sangat kecil.
Dari hasil-hasil studi yang dilakukan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan para ahli pendidikan kesehatan, terungkap memang benar bahwa pengetahuan masyarakat tentang kesehatan sudah tinggi, tetapi praktik mereka masih rendah. Hal ini berarti bahwa perubahan atau peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan tidak diimbangi dengan peningkatan atau perubahan perilakunya. Dari penelitian-penelitian yang telah ada, terungkap 80% masyarakat tahu cara mencegah penyakit demam berdarah dengan 3M (menguras, menutup, dan mengubur) barang-barang yang mampu menampung air, tetapi hanya 35% dari masyarakat tersebut yang benar-benar melakukan atau mempraktikkan 3M.
Belajar dari pengalaman pelaksanaan pendidikan kesehatan dari berbagai tempat selama bertahun-tahun tersebut, menyimpulkan bahwa pendidikan kesehatan tersebut belum “memampukan” (ability) masyarakat untuk berperilaku hidup sehat, tetapi baru dapat “memaukan” (wiliness) masyarakat untuk berperilaku hidup sehat. Dari pengalaman ini juga menimbulkan kesan yang negatif  bagi pendidikan kesehatan, bahwa pendidikan kesehatan hanya mementingkan perubahan perilaku melalui pemberian informasi atau penyuluhan kesehatan. Sedangkan pendidikan kesehatan kurang melihat, bahwa perubahan perilaku atau perlakuan baru tersebut juga memerlukan fasilitas, bukan hanya pengetahuan saja. Untuk praktik atau berperilaku minum air bersih, buang air besar di jamban, dan makan-makanan yang bergizi, bukan hanya perlu pengetahuan tentang manfaat air bersih, manfaat buang air besar di jamban, atau tahu manfaat tentang makanan yang bergizi, tetapi juga perlu sarana atau fasilitas air bersih, mempunyai uang untuk membangun jamban dan membeli makanan yang bergizi.
Oleh sebab itu, agar pendidikan kesehatan tidak terkesan negatif, maka para ahli pendidikan kesehatan global yang dimotori oleh WHO, pada tahun 1984 merevitalisasi pendidikan kesehatan tersebut dengan menggunakan istilah promosi kesehatan (health promotion). Dengan penggunaan istilah promosi kesehatan sebagai “pengganti” pendidikan kesehatan ini, mempunyai implikasi terhadap batasan atau definisinya. Kalau sebelumnya pendidikan kesehatan lebih diartikan sebagai upaya yang terencana untuk perubahan perilaku masyarakat sesuai dengan norma-norma kesehatan, maka promosi kesehatan hanya mengupayakan perubahan perilaku saja, tetapi juga perubahan lingkungan yang memfasilitasi perubahan perilaku tersebut. Disamping itu, promosi kesehatan lebih menekankan kepada peningkatan kemampuan hidup sehat, bukan sekedar berperilaku sehat.
Lawrence Green (1984) merumuskan definisi sebagai berikut : “promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perubahan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.” Dari batasan ini jelas, bahwa promosi kesehatan adalah pendidikan kesehatan plus, atau promosi kesehatan adalah lebih dari pendidikan kesehatan. Promosi kesehatan bertujuan untuk menciptakan suatu keadaan, yakni perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan.
Berdasarkan Piagam Ottawa (Ottawa Charter:1986) sebagai hasil rumusan Konferensi Internasional Promosi Kesehatan di Ottawa, Canada, mengatakan bahwa :
Health promotion is the process of enabling people to increase control over, and improve their health. To reach a state of complete physical, mental, and social well-being, and individual or group must be able to indetify and realize aspiration, to satisfy needs, and to change or cope with the environment.
Dari kutipan diatas jelas dinyatakan bahwa, promosi kesehatan adalah suatu proses untuk memampukan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka. Dengan kata lain, promosi kesehatan adalah upaya yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri. Batasan promosi kesehatan ini mencakup 2 dimensi yakni “kemauan” dan “kemampuan”, atau tidak sekedar meningkatnya kemauan masyarakat seperti dikonotasikan oleh pendidikan kesehatan. Lebih lanjut dinyatakan, bahwa dalam mencapai derajat kesehatan yang sempurna baik fisik, mental, maupun sosial, masyarakat harus mampu mengenal dan mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya. Lingkungan disini mencakup lingkungan fisik, lingkungan sosio budaya, dan lingkungan ekonominya.
Batasan promosi kesehatan yang lain dirumuskan oleh Yayasan Kesehatan Victoria (Victorian Health Fondation – Australia, 1997), sebagai berikut “
Health promotion is a programs are design to bring about “change” within people, organization, communities, and their environment.
Batasan ini menekankan, bahwa promosi kesehatan adalah suatu program perubahan perilaku masyarakat yang menyeluruh, dalam konteks masyarakatnya. Bukan hanya perubahan perilaku (within people), tetapi juga perubahan lingkungannya. Perubahan perilaku tanpa diikuti perubahan lingkungan tidak akan efektif, perilaku tersebut tidak akan bertahan lama. Contoh : Orang Indonesia yang pernah tinggal di luar negeri atau Negara maju Amerika misalnya. Sewaktu di Negara itu ia berperilaku teratur, mengikuti budaya antri dalam memperoleh pelayanan apa saja, naik bus, kereta, dan sebagainya. Tetapi setelah kembali ke Indonesia, dimana budaya antri (lingkungan) belum ada, maka ia akan ikut berebut waktu naik bus, naik kereta, dan sebagainya. Oleh sebab itu, promosi kesehatan bukan sekedar merubah perilakunya saja tetapi juga mengupayakan perubahan lingkungan, system, dan sebagainya.
PERBEDAAN PROMOSI KESEHATAN DAN PENDIDIKAN KESEHATAN
PENDIDIKAN KESEHATAN 
Tujuan PKM (Komite Ahli WHO,TRS 156-1958), yaitu :
1.      Menjadikan kesehatan sebagai harta atau milik masyarakat yang berharga.
2.      Membantu orang (individu) menjadi mampu menjalankan kegiatan-kegiatan demi kepentingannya, secara individu kelompok agar menyadari sepenuhnya makna kesehatan dan berperilaku sehat.
3.      Meningkatkan pengembangan dan pemanfaatan fasilitas kesehatan
sebagaimana mestinya.
Dari tujuan di atas dapat disimpulkan, bahwa tujuan PKM adalah adanya perubahan perilaku manusia untuk mencapai hidup sehat yang diperoleh melalui pengalaman dan proses belajar. Tujuan utama pendidikan kesehatan adalah agar orang mampu menerapkan masalah dan kebutuhan mereka sendiri, mampu memahami apa yang dapat mereka lakukan terhadap masalahnya, dengan sumber daya yang ada pada mereka ditambah dengan dukungan dari luar, dan mampu memutuskan kegiatan yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup sehat dan kesejahteraan masyarakat (Mubarak, 2009).
Menurut Undang-undang Kesehatan No. 23 Tahun 1992 dan WHO, tujuan pendidikan kesehatan adalah meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan; baik secara fisik, mental dan sosialnya, sehingga produktif secara ekonomi maupun social, pendidikan kesehatan disemua program kesehatan; baik pemberantasan penyakit menular, sanitasi lingkungan, gizi masyarakat, pelayanan kesehatan, maupun program kesehatan lainnya (Mubarak, 2009).
PROMOSI KESEHATAN
“Promosi kesehatan lahir (emergedout) dari pendidikan kesehatan. Ada alasan untuk itu : Pertama, para penyuluh/pendidik kesehatan masyarakat menjadi lebih sadar tentang perlunya sebuah pendekatan positif dalam pendidikan kesehatan, lebih dari sekedar pencegahan penyakit. Kedua, menjadi semakin nyata bahwa pendidikan kesehatan akan lebih berdaya jika didukung dengan seperangkat upaya seperti legal environment dan regulatory. (Illona KickBush)
SEJARAH PROMOSI KESEHATAN
SEJARAH PROMOSI KESEHATAN DI INDONESIA
Istilah Health Promotion (Promosi Kesehatan) sebenarnya sudah mulai dicetuskan setidaknya pada era tahun 1986, ketika diselenggarakannya konferensi Internasional pertama tentang Health Promotion di Ottawa, Canada pada tahun 1986. Pada waktu itu dicanangkan ”the Ottawa Charter”, yang didalamnya memuat definisi serta prinsip-prinsip dasar Health Promotion. Namun istilah tersebut pada waktu itu di Indonesia belum terlalu populer seperti sekarang. Pada masa itu, istilah yang cukup terkenal hanyalah penyuluhan kesehatan, dan disamping itu pula muncul dan populer istilah-istilah lain seperti KIE (Komunikasi, Informasi, dan Edukasi), Social Marketing (Pemasaran Sosial), Mobilisasi Sosial dan lain sebagainya.
Konferensi Internasional Promosi Kesehatan I menghasilkan 5 strategi utama ruang lingkup PROMKES :
1.      Mengembangkan kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
2.      Menciptakan lingkungan yang mendukung.
3.      Memperkuat gerakan masyarakat.
4.      Meningkatkan keterampilan individu (tatanan).
5.      Reorientasi pelajaran kesehatan (preventif dan promontif).
Suatu ketika pada tahun 1994, Dr.Ilona Kickbush yang pada saat itu sebagai Direktur Health Promotion WHO Headquarter Geneva datang melakukan kunjungan ke Indonesia. Sebagai seorang direktur baru ia telah berkunjung kebeberapa negara termasuk Indonesia salah satunya. Pada waktu itu pula Kepala Pusat Penyuluhan Kesehatan Depkes juga baru diangkat, yaitu Drs. Dachroni, MPH., yang menggantikan Dr.IB Mantra yang telah memasuki masa purna bakti (pensiun). Dalam kunjungannya tersebut Dr.Ilona Kickbush mengadakan pertemuan dengan pimpinan Depkes pada waktu itu baik pertemuan internal penyuluhan kesehatan maupun eksternal dengan lintas program dan lintas sektor, termasuk FKM UI, bahkan sempat pula Kickbush mengadakan kunjungan lapangan ke Bandung.
Dari serangkaian pertemuan yang telah dilakukan serta perbincangan selama kunjungan lapangan ke Bandung, Indonesia banyak belajar tentang Health Promotion (Promosi Kesehatan). Barangkali karena sangat terkesan dengan kunjungannya ke Indonesia kemudian ia menyampaikan suatu usulan. Usulan itu diterima oleh pimpinan Depkes pada saat itu Prof. Dr. Suyudi. Kunjungan Dr. Ilona Kickbush itu kemudian ditindaklanjuti dengan kunjungan pejabat Health Promotion WHO Geneva lainnya, yaitu Dr.Desmonal O Byrne, sampai beberapa kali, untuk mematangkan persiapan konferensi Jakarta. Sejak itu khususnya Pusat Penyuluhan Kesehatan Depkes berupaya mengembangkan konsep promosi kesehatan tersebut serta aplikasinya di Indonesia.
Pada Tahun 1997 diadakan konferensi internasional Promosi Kesehatan dengan tema ”Health Promotion Towards The 21’stCentury, Indonesian Policy for The Future” dengan melahirkan  ‘The Jakarta Declaration’.
Dengan demikian penggunaan istilah promosi kesehatan di indonesia tersebut dipicu oleh perkembangan dunia Internasional. Nama unit Health Education di WHO baik di Hoodquarter, Geneva maupun di SEARO, India juga sudah berubah menjadi unit Health Promotion. Nama organisasi profesi Internasional juga mengalami perubahan menjadi International Union For Health Promotion and Education (IUHPE). Istilah promosi kesehatan tersebut juga ternyata sesuai dengan perkembangan pembangunan kesehatan di Indonesia sendiri, yang mengacu pada paradigma sehat.
Di Indonesia sekitar tahun 1995 istilah penyuluhan kesehatan berubah menjadi promosi kesehatan. Perubahan itu dilakukan selain karena komitmen terhadap perkembangan dunia (health promotion), juga sejalan dengan paradigma sehat yang merupakan arah baru pembangunan kesehatan di Indonesia. Istilah promosi kesehatan itulah yang digunakan sekarang.
Oleh WHO promosi kesehatan didefenisikan sebagai “the process of enabling people to control over and improve their health“.  Definisi tersebut
diaplikasikan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “proses pemberdayaan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya“. Definisi ini tetap dipergunakan, sampai mengalami revisi pada konferensi dunia di Bangkok pada bulan Agustus 2005 menjadi “Health promotion is the process of enabling people to increase control and its determinants,and thereby improve their health “.
PENTINGNYA PROMOSI KESEHATAN
Berbicara kesehatan, tentunya pasti semua orang ingin selalu hidup sehat, dengan hidup sehat kita akan nyaman dan tentram dalam menjalani kehidupan. Dibandingkan dengan menjalani hidup dalam keadaan sakit, tentunya untuk menciptakan hidup sehat yang lebih baik kita dapat melakukan melalui upaya Promosi Kesehatan dengan baik.
Berdasarkan data Kemenkes RI tahun 2013, menunjukkan bahwa masyarakat sakit yang besaranya sekitar 15%. Sedangkan selebihnya sekitar 85 % masyarakat sehat agar tidak jatuh sakit. Dari data tersebut artinya persentasi masyarakat sehat agart tidak jatuh sakit cenderung labih banyak.
Tetapi tantangan pembangunan kesehatan semakin hari semakin cukup berat yaitu trend semakin meningkatnya penyakit tidak menular (PTM) dan penyakit yang disebabkan karena perubahan gaya hidup (life style). Data Riskesdas Kemenkes RI 2010 menunjukkan 59% kematian di Indonesia disebabkan penyakit tidak menular yang membutuhkan biaya pengobatan yang sangat besar seperti stroke, kanker, diabetes, gagal ginjal dan penyakit jantung.
Kedepan kita harus menguatkan upaya Promosi Kesehatan untuk meningkatkan masyarakat sehat yang jumlahnya 85% agar tidak jatuh sakit. Hal ini mutlak harus di lakukan secra bersama-sama agar anggaran daerah dapat digunakan secara efektif dan efisien sehingga tidak memberatkan APBD atau APBN.
Upaya Promosi Kesehatan, diantaranya dapat dilakukan melalui pola makan dengan gizi seimbang, mengendalikan stres, olahraga secara teratur, tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol. Untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya hidup sehat membutuhkan kerjasama semua pihak. Kita membutuhkan kebijakan lintas kepemerinthan yang berpihak pada kesehatan.
Oleh karena itu, Promosi Kesehatan adalah sangat penting, tidak ada program pembangunan kesehatan dapat berhasil apabila tidak didukung dengan Promosi Kesehatan yang baik. Makna Promosi Kesehatan (promitif) jangan diartikan sempit seperti penyuluhan semata apalagi penyebaran leaflet saja. Hakekat Promosi Kesehatan adalah pemberdayaan masyarakat, termasuk pemberdayaan pada lintas sektor, dunia usaha, institusi pendidikan dan lain sebagainya.
Dengan Promosi Kesehatan yang benar maka masyarakat akan tumbuh kesadaran dan dapat berperan serta dalam setiap upaya kesehatan. Di tingkat desa kita berharap petugas kesehatan dapat bekerjasama dengan kepala desa, kader dan masyarakat dalam meningkatkan berbagai Upaya Kesehatan Bersumber Masyarakat seperti Posyandu, Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren), Posbindu (Pos Pembinaan Terpadu) PTM, desa siaga aktif, dll. Masyarakat kita sebagian besar tinggal di desa. Berbagai program pemberdayaan masyarakat desa di bidang kesehatan pada masa lalu yang dinilai berhasil patut dihidupkan kembali. Agar terciptanya masyarakat hidup sehat.

Kamis, 04 Agustus 2016

bidan sebagai bidan

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah  ini membahas tentang “PERAN BIDAN SEBAGAI ADVOKATOR DAN EDUKATOR” agar mahasiswa dapat memahaminya.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Promosi Kesehatan yang telah membimbing kami dalam penyusunan makalah ini. Kami menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna, oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi perbaikan pembuatan makalah selanjutnya.
Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini. Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberikan kelancaran dan kemudahan bagi kita semua.

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Peranan bidan yang tampak nyata  adalah sebagai role model masyarakat, sebagai anggota masyarakat, advocatoar dan educator, tentunya kompetensi seperti ini yang akan dikembangkan lebih lanjut melalui pendidikan dan pelatihan bagi para bidan. Peranan yang harus di lihat sebagai “main idea” untuk membentuk sebuah peradaban dan tatanan sebuah pelayanan kesehatan.
Bidan dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, khususnya ibu hamil, melahirkan dan senantiasa berupaya mempersiapkan ibu hamil sejak kontak pertama saat pemeriksaan kehamilan memberikan penyuluhan tentang manfaat pemberian ASI secara berkesinambungan sehingga ibu hamil memahami dan siap menyusui anaknya.
Upaya pembangunan keluarga sejahtera dan pemberdayaan bidan tidak bisa dipisahkan. Bidan adalah ujung tombak pembangunan keluarga sejahtera dari sudut kesehatan dan pemberdayaan lainnya. Bidan menempati posisi yang strategis karena biasanya di tingkat desa merupakan kelompok profesional yang jarang ada tandingannya.

1.2  Tujuan

Tujuan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui pengertian  bidan sebagai advokator dan edukator.  
2.       Untuk mengetahui peran bidan sebagai advokator dan edukator.

BAB II

ISI

2.1 Definisi Peran Bidan Sebagai Advokator

2.2 Tujuan Advokator

Tujuan advokator adalah diperolehnya komitmen dan dukungan dalam upaya kesehatan, baik berupa kebijakan, tenaga, sarana, kemudahan, keikutsertaan dalam kegiatan, maupun bentuk lainnya sesuia dengan keadaan dan suasana.

2.3 Target Advokator

2.4 Persyaratan Advokasi

2.5 Peran Bidan Sebagai Advokator

Di bawah ini ada beberapa peran bidan sebagai Advokator :
1.      Advokasi dan strategi pemberdayaan wanita dalam mempromosikan hak-haknya yang diperlukan untuk mencapai kesehatan yang optimal (kesetaraan dalam memperoleh pelayanan kebidanan)
2.      Advokasi bagi wanita agar bersalin dengan aman. Contoh: Jika ada ibu bersalin yang lahir di dukun dan menggunakan peralatan yang tidak steril, maka bidan melakukan advokasi kepada pemerintah setempat agar pertolongan persalinan yang dilakukan oleh dukun menggunakan peralatan yang steril salah satu caranya adalah melakukan pembinaan terhadap dukun bayi dan pemerintah memberikan sangsi jika ditemukan dukun bayi di lapangan menggunakan alat-alat yang tidak steril.
3.      Advokasi terhadap pilihan ibu dalam tatanan pelayanan.

2.6 Definisi Peran Bidan Sebagai Edukator

Definisi bidan menurut International Confederation Of Midwives (ICM) yang dianut dan diadopsi oleh seluruh organisasi bidan di seluruh dunia, dan diakui oleh WHO dan Federation of International Gynecologist Obstetrition (FIGO). Definisi tersebut secara berkala di review dalam pertemuan Internasional / Kongres ICM.
Ikatan Bidan Indonesia : Bidan diakui sebagai tenaga professional yang bertanggung-jawab dan akuntabel, yang bekerja sebagai mitra perempuan untuk memberikan dukungan. Asuhan ini mencakup upaya pencegahan, promosi persalinan normal, deteksi komplikasi pada ibu dan anak, dan akses bantuan medis atau bantuan lain yang sesuai, serta melaksanakan tindakan kegawat-daruratan.
Bidan sebagai seorang pendidik informasi yang diberikan mudah dipahami, memberikan waktu untuk bertanya, dan peka terhadap tanda-tanda nonverbal dari pasien (contoh: raut wajah yang menggambarkan bahwa klien masih kurang paham dengan penjelasan yang diberikan oleh bidan atau gerakan-gerakan [ bahasa tubuh] klien yang menyatakan agar bidan tidak terburu-buru dalam memberikan penjelasan dan bahasa tubuh yang lainnya yang di uangkapkan oleh klien).

2.7 Peran Bidan Sebagai Edukator

Di  bawah ini ada beberapa peran bidan sebagai Edukator :
1.      Masa Remaja
Masa remaja adalah suatu fase perkembangan yang dinamis dalam kehidupan seseorang individu. Tidakan yang dapat dilakukan oleh bidan dengan perannya sebagai educator adalah sebagai berikut:
a.       Memberikan penjelasan tentang kesehatan reproduksi wanita.
b.      Memberikan KIE tentangbahayasekbebas.
c.       Memberikan KIE tentangbahayanarkoba.
2.      Masa Hamil
Kehamilan adalah masa dimana terdapat janin didalam rahim seorang wanita tindakan yang dapat dilakukan oleh bidan adalah sebagai berikut:
a.       Mengajarkan pada ibu tentang perubahan tubuh selama proses kehamilan.
b.      Mengajarkan pada ibu mengenai keluhan yang umumnya terjadi saat hamil dan cara mengatasinya.
c.       Mengajarkan pada ibu tentang pentingnya menjaga personal higene.
d.      Membina dukun bayi dan kader posyandu.
e.       Mengajarkan pada ibu senam hamil.
f.       Mengajarkan pada ibu tentang bahaya tanda-tanda kehamilan.
g.      Memberikan konseling gizi.
3.      Masa Bersalin
Persalinan adalah saat yang paling ditunggu namun juga mendebarkan bagi ibu dan keluarga. Peran bidan sebagai Edukator dalam menghadapi masa bersalin antara lain sebagai berikut:
a.       Mengajarkan pada ibu dan keluarga tanda-tanda persalinan.
b.      Mengajarkan pada ibu cara meneran yang benar.
c.       Mengajarkan keluarga masase uterus sehingga mampu untuk mengetahui jika uterus tidak berkontraksi baik dan untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum.
d.      Memberitahu ibu tentang tanda bahaya pada persalinan.
4.      Masa Nifas
a.       Mengajarkan kepada ibu tentang cara mobilisasi.
b.      Mengajarkan kepada ibu perawatan bayi baru lahir.
c.       Mengajarkan kepada ibu cara menyendawakan bayi.
d.      Mengajarkan kepada ibu dan keluarga cara perawatan tali pusat.
e.       Mengajarkan kepada ibu dan keluarga cara memandikan bayi.
f.       Mengajarkan kepada ibu tentang personal higene.
g.      Mengajarkan kepada ibu dan keluarga tentang tanda-tanda bahaya dan penyakit pada masa nifas.
h.      Mengajarkan kepada ibu tentang KB pascasalin.

2.8Tugas pokok bidan sebagai Edukator

Sebagai Edukator bidan memiliki 2 tugas yaitu sebagai pendidik dan penyuluh kesehatan bagi klien serta pelatih dan pembimbing kader.
1.      Memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan pada klien.
Bidan memberi pendidikan dan penyuluhan kesehatan kepada klien (individu, keluarga, kelompok, serta maryarakat) tentang penanggulangan masalah kesehatan, khususnya yang berhubungarn dengan kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana, mencakup:
a) Mengkaji kebutuhan pendidikan dan penyuluhan kesehatan, khususnya dalam bidang kesehatan ibu, anak, dan keluarga berencana bersama klien.
b) Menyusun rencana penyuluhan kesehatan sesuai dengan kebutuhan yang telah dikaji, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang bersama klien.
c) Menyiapkan alat serta materi pendidikan dan penyuluhan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
d) Melaksanakan program/rencana pendidikan dan penyuluhan kesehatan sesuai dengan rencana jangka pendek serta jangka panjang dengan melibatkan unsur-unsur terkait, termasuk klien.
e) Mengevaluasi hasil pendidikan/penyuluhan kesehatan bersama klien dan menggunakannya untuk memperbaiki serta meningkatkan program yang akan datang.
f) Mendokumentasikan semua kegiatan dan hasil pendidikan/ penyuluhan kesehatan secara lengkap serta sistematis.
2.      Melatih dan membimbing kader
Bidan melatih dan membimbing kader, peserta didik kebidanan dan keperawatan, serta membina dukun dl wilayah atau tempat kerjanya, mencakup:
a) Mengkaji kebutuhan pelatihan dan bimbingan bagi kader, dukun bayi, serta peserta didik.
b) Menyusun rencana pelatihan dan bimbingan sesuai dengan hasil pengkajian.
c) Menyiapkan alat bantu mengajar (audio visual aids, AVA) dan bahan untuk keperluan pelatihan dan bimbingan sesuai dengan rencana yang telah disusun.
d) Melaksanakan pelatihan untuk dukun bayi dan kader sesuai dengan rencana yang telah disusun dengan melibatkan unsur-unsur terkait.
e) Membimbing peserta didik kebidanan dan keperawatan dalam lingkup kerjanya.
f) Menilai hasil pelatihan dan bimbingan yang telah diberikan.
g) Menggunakan hasil evaluasi untuk meningkatkan program bimbingan.
h) Mendokumentasikan semua kegiatan termasuk hasil evaluasi pelatihan serta bimbingan secara sistematis dan lengkap.



3.1         Kesimpulan

Peran bidan sebagai advokator adalah melakukan advokasi terhadap pengambil keputusan dari kategori program ataupun sektor yang terkait dengan kesehatan maternal dan neonatal.Tujuan advokator adalah diperolehnya komitmen dan dukungan dalam upaya kesehatan, baik berupa kebijakan, tenaga, sarana, kemudahan, keikutsertaan dalam kegiatan, maupun bentuk lainnya sesuia dengan keadaan dan suasana.
Bidan mempunyai tugas penting dalam konseling dan pendidikan kesehatan, tidak hanya kepada perempuan, tetapi juga kepada keluarga dan masyarakat. Kegiatan ini harus mencakup pendidikan antenatal dan persiapan menjadi orang tua serta dapat meluas pada kesehatan perempuan, kesehatan seksual atau kesehatan reproduksi dan asuhan anak.