Tugas 4 - Solusi Labsky Untuk Kemanusiaan
"Dimulai dari Kesadaran Diri Sendiri Untuk Damai dan Sejahteranya Umat Manusia"
Setiap manusia yang berada di muka bumi ini, baik yang tua ataupun yang muda, baik yang sakit atau pun sehat, yang kaya dan yang kurang mampu pasti ingin mendapatkan hak dan pandangan yang sama dimata orang lain. Tentulah banyak diantara kita yang masih sering menganggap satu dengan yang lain berbeda. Kesadaran akan toleransi dan rasa kemanusiaan di dalam diri kita masih sangat tipis. Bahkan tidak sedikit diantara kita yang masih sering mengkritik dan menghakimi orang secara kasar.
Rasa kemanusiaan timbul bukan
dari seberapa banyak harta yang kita punya atau seberapa besar kekuasaan yang
kita miliki. Rasa kemanusiaan muncul dari diri kita masing-masing. Saling
memahami sesama umat beragama, saling bantu-membantu dengan warga lingkungan
rumah, itu merupakan sebagian kecil dari contoh rasa kemanusiaan.
Seluruh umat manusia, umat
beragama di dunia ini pasti menginginkan adanya perdamaian. Perdamaian dari
segala sisi. Baik dari ekonomi, pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Kita perlu
menyadari bahwa diluar sana, di luar lingkungan dimana kita biasa beraktifitas,
masih banyak sekali orang yang membutuhkan.
Untuk itu, saya akan memaparkan
beberapa masalah kemanusiaan yang akhir-akhir ini sering kita hadapi. Dan saya
juga akan memeberikan beberapa solusi untuk menyelesaikan permasalahan
tersebut.
1. Donor Darah
Sebagai
umat manusia yang sadar akan kebutuhan sesama, kita pasti dapat melihat kondisi
orang-orang luar sana. Bukan hanya dinegara kita sendiri, kita harus dapat
membuka mata untuk melihat sampai ke negara lain. Kita diberi pengetahuan dan
pemahaman lebih di banding makhluk lain. Seharusnya kita dapat memahami kondisi
diluar sana dengan lebih baik.
Di
negara-negara kecil peperangan masih sering terjadi dimana-mana, banyak korban
berjatuhan. Bahkan di negara kita ini pun masih sering terjadi peperangan antar
daerah dan suku. Selain itu juga masih ada lagi korban kecelakaan, kebakaran,
penembakan dan lain-lain. Tidak sedikit diantara mereka yang kehabisan darah. Kita
semua tahu bahwa darah merupakan cairan yang penting dalam tubuh kita. Darah
sangat dibutuhkan untuk kelangsungan hidup manusia. Tapi apa? Banyak sekali
orang yang kehilangan nyawanya karena kehabisan darah.
Saat
ini, di rumah sakit - rumah sakit di indonesia sering sekali kehabisan stock
darah. Padahal banyak pasien gawat yang harus segera diberi pertolongan. Ini
merupakan masalah kita semua. Dimanakah kita saat itu? Dimanakah kesadaran kita
untuk membantu sesama disaat kita tahu ada banyak orang yang membutuhkan
bantuan kita?
Solusi:
Di
dunia, khususnya di indonesia saat ini, banyak sekali remaja-remaja yang sehat
dan tangguh. Banyak juga usia produktif yang masih mampu untuk beraktivitas. Kesadaran
mereka semua tentang pentingnya donor darah sangat dibutuhkan. Di
perusahaan-perusahaan besar di indonesia, pendonoran darah sudah lumayan banyak
dilakukan. Yang saya jarang lihat adalah pendonoran darah di sekolah-sekolah
khususnya SMA dan Universitas. Padahal kita semua tahu bahwa indonesia adalah
salah satu negara dengan penduduk yang banyak, apalagi untuk umur remajanya. Karena
bagi saya, kesadaran remaja untuk membantu akan sangat berperan banyak untuk
kedepannya. Remaja rata-rata fisiknya masih kuat dan mampu untuk mendonorkan
darah.
Organisasi
donor darah seperti PMI (Palang Merah
Indonesia) harus bekerja lebih keras. Selain PMI, seharusnya masih banyak lagi organisasi donor
darah di indonesia. Karena tidak akan cukup jika hanya ada satu atau dua
organisasi yang mengurusi donor darah untuk menampung darah dari masyarakat
kita ini.
Untuk
menjaring remaja-remaja ini, dibutuhkan banyak motivasi dan pengarahan. Penyuluhan-penyuluhan
ke sekolah-sekolah perlu sekali untuk diadakan. Kemudian event seperti
"donor darah bersama" itu harus diadakan secara rutin. Sehingga kita
dapat membantu meminimalisir kemungkinan orang untuk kekurangan darah. Di balik
itu, setidaknya kita sudah melakukan hal yang baik untuk sesama.
2. Homeless / Tidak memiliki tempat tinggal
Kita
sebagai masyarakat yang hidup bertetangga dan nyaman di rumah masing-masing
adalah suatu anugerah yang luar biasa. Bisa memiliki halaman untuk menanam
pohon, memeliki ruang keluarga untuk berkumpul dengan anggota keluarga adalah
sebuah nikmat.
Tapi
kalo kita melihat ke pinggiran kota, atau bantaran sungai, kita akan melihat
banyak sekali orang-orang yang tinggal di tempat yang kurang layak. Atau kalau
kita sedang jalan-jalan, sering kita lihat di emperan jalan banyak orang tidur
hanya dengan beralaskan tikar atau bahkan tidak beralaskan apa-apa. Sebagai
contoh saya pernah melihat di kawasan yang lumayan elite, ada sekeluarga
pemulung yang memang tinggal di atas gerobak sampahnya. Mereka tinggal di
tempat biasa mereka menyimpan sampah-sampah yang sudah di kumpulkan. Menurut
saya itu sama sekali tidak layak huni. Dan perlu di ketahui, keluarga-keluarga
seperti itu tidak hanya satu atau dua keluarga. Tetapi banyak sekali keluarga
yang kurang mampu dan harus tidur dengan kondisi seperti itu.
Banyak
juga orang tua yang sudah tidak mampu bekerja, masih menjadi kuli atau menjadi
tukang cangkul. Dan mereka juga mungkin tidak memiliki tempat yang layak huni. Oleh
karena itu, kita sebagai orang yang berkecukupan harus pandai-pandai melihat
kondisi saudara-saudara kita yang membutuhkan.
Solusi:
Indonesia
merupakan sebuah negara yang memiliki lahan luas dan sumber daya yang sangat
melimpah. Kita juga memiliki pemerintah yang seharusnya mampu untuk mengubah
lahan dan sumber daya yang ada untuk mensejahterakan seluruh warga negaranya.
Apa
salahnya kita sebagai generasi muda mengubah sedikit lahan untuk setidaknya
membuatkan Rusun (Rumah Susun) untuk orang yang kurang layak rumahnya. Kita
bisa membangun gedung-gedung tinggi di kota, kita bisa membuat jalan tol. Tetapi
kenapa kita tidak bisa membuatkan rumah untuk tempat tinggal saudara kita yang
membutuhkan?
Di
indonesia banyak sekali orang yang berkecukupan. Kita seharusnya bisa
mengadakan charity untuk menggalang dana pembangunan rusun. Kita juga bisa
mensiasati penggalangan dana melalui acara-acara di TV. Dengan begitu
orang-orang akan mengetahui bahwa diluar sana kita sedang merencanakan
pembangunan untuk para tuna wisma.
Tentunya
disini dibutuhkan banyak partisipasi dari masyarakat semua. Harus ada kerjasama
yang baik dari pemerintah dan masyarakat juga. Dengan begitu kita dapat
meminimalisir para tuna wisma yang ada di indonesia.
3. Rendahnya Kesadaran Untuk Berpendidikan
Manusia yang hidup di masa ini sudah berada di
jaman yang modern. Era globalisasi ini telah merubah semua yang sederhana
menjadi sesuatu yang luar biasa. Dari yang awalnya komputer masih pentium
sampai sekarang sudah jauh lebih berkembang. Semua berawal dari pendidikan. Teknisi-teknisi
yang memikirkan ini semua sudah pasti memiliki pendidikan yang baik. Bisa di
lihat sekarang banyak sekali pengusaha-pengusaha muda yang membuah lahan pekerjaan
baru bagi orang banyak. Itu juga merupakan hasil dari pembelajaran.
Tetapi
di daerah-daerah pelosok, di pinggiran kota, di desa-desa, masih banyak orang
yang tidak menyadari pentingnya bersekolah. Para orang tua yang kurang
menyadari pentingnya menyekolahkan anaknya. Banyak dari mereka yang masih
beranggapan bahwa bertani saja cukup, atau berternak saja sudah bisa menghidupi
keluarga. Tetapi apa salahnya kita berusaha lebih? Alangkah baiknya kalau kita
bisa menjadi pemilik lahan pertanian, bukan sebagai petaninya. Atau kita
sebagai pemilik pabrik keju, bukan sebagai peternak sapinya. pola pikir
orang-orang inilah yang perlu dirubah.
Mencerdaskan
kehidupan bangsa, merupakan salah satu tujuan bangsa indonesia. Memiliki niatan
untuk memajukan bangsanya lewat generasi muda yang mau belajar. Semua itu harus
dimulai dari kecil. Mulai dari SD, SMP, SMA, Perguruan tinggi dan seterusnya. Proses
belajar tidak berhenti di perguruan tinggi saja. Karena pelajaran itu dapat
kita temui dimana saja.
Masih
sangat banyak orang-orang yang buta huruf, berhenti sekolah di SD, atau bahkan
tidak pernah bersekolah sama sekali. Disitulah peran kita dibutuhkan untuk
mengubah pola pikir dan mencerdaskan bangsa.
Solusi:
Sebagai
generasi muda yang berpendidikan tentu kita memiliki keinginan untuk
mencerdaskan sesama kita. Banyak sekali orang-orang di luar sana yang belum
bersekolah, tidak bisa membaca, tidak bisa menulis. Tugas kita adalah
memberikan pelayanan dan memberi pengarahan.
Pengarahan
dibutuhkan untuk mengubah pola pikir orang tua-orang tua agar mau menyekolahkan
anaknya. Sebenarnya saya yakin orang tua di dunia ini pasti menginginkan
anaknya jauh lebih baik dari pada dirinya. Tetapi bagi mereka yang membutuhkan,
sulit untuk menyekolahkan anaknya jika dirinya saja sulit untuk mengidupi
keluarga. Oleh karena itu pemerintah harus bsia mengadakan sekolah gratis yang
baik kualitasnya untuk memudahkan anak-anak penerus bangsa agar bisa sekolah. Selain
itu kita juga bisa membuka sekolah darurat untuk remaja-remaja yang tidak
sekolah karena harus membantu orang tua mereka bekerja. Mereka bisa belajar
membaca dan menulis.
Tidak
hanya untuk mereka yang membutuhkan. Kita sebagai orang yang sudah
berpendidikan, harus terus belajar agar bisa memajukan bangsa. Karena bangsa
yang maju selalu datang dari penerus-penerus bangsa yang berkualitas.
Selain
pendidikan formal, anak-anak bangsa juga harus dibekali dengan pendidikan
agama. mereka harus mengenal dengan baik agama mereka. Karena agama adalah
pendirian kita. Tidak ada satu agama pun yang mengajarkan keburukan. Jadi
dengan belajar tentang agama, kita juga akan mengerti tentang toleransi
beragama.
Diatas
telah diuraikan beberapa masalah kemanusiaan. Masih banyak lagi masalah-masalah
tentang kemanusiaan di dunia ini. Ada pemerkosaan, pencurian, pembunuhan, penjualan
manusia, dan banyak lagi. Banyak diantaranya belum teratasi, bahkan semakin
parah setiap tahunnya.
Kita
sebagai generasi muda, dan generasi penerus bangsa seharusnya memiliki tekad
yang kuat untuk memperbaiki kemerosotan budaya yang ada. Sehingga masalah
kemanusiaan seperti ini bisa diatasi. Semoga kedepannya dunia ini lebih damai
dan lebih sejahtera, sehingga tidak harus ada lagi orang-orang yang merasa
tersingkir.






KATA PENGANTAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan
BAB II
ISI
2.1 Definisi Peran Bidan Sebagai Advokator
2.2 Tujuan Advokator
2.3 Target Advokator
2.4 Persyaratan Advokasi
2.5 Peran Bidan Sebagai Advokator
2.6 Definisi Peran Bidan Sebagai Edukator
2.7 Peran Bidan Sebagai Edukator
2.8Tugas pokok bidan sebagai Edukator
3.1 Kesimpulan